Kisah Anak Berbakti Kepada Orang Tua

Ada banyak kisah anak berbakti kepada orang tua. Bahkan karena baktinya anak kepada kedua orang tuanya, anak tersebut mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Sebagai manusia, sudah seharusnya kita menaruh rasa hormat kepada orang tua. Baik itu ayah maupun ibu, semuanya harus kita hormati.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 23 yang berbunyi:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

 

Artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

 

Kisah Anak Berbakti Kepada Orang Tua

Sebenarnya ada banyak kisah mengenai anak yang berbakti, baik itu yang terjadi pada masa sekarang ataupun terjadi pada masa lalu. Tetapi, pada artikel ini GoAmal akan membagikan salah satu cerita saja yang tentunya sangat inspiratif.

 

1. Awal Cerita

Jadi, cerita ini berlatar di Bani Israil. Ada satu keluarga yang hidup dalam garis kemiskinan. Mereka terdiri atas 1 orang ayah dan 4 orang anak.

Sang Ayah sudah berusia sangat tua sehingga sudah tidak bisa melakukan aktivitas secara normal. Dari 4 anak tersebut, hanya 1 anak saja yang bersedia merawatnya. Sebut saja namanya Abdul.

Kisah anak yang berbakti kepada orang tua di zaman Bani Israil ini berlanjut dengan adanya percakapan antara Abdul dan ketiga saudaranya.

“Kalian tidak mau merawat Ayah karena tidak akan mendapatkan warisan sepeninggalannya nanti. Biarlah aku yang merawatnya,” ucap Abdul.

Abdul pun selalu merawat ayahnya setiap saat dengan rasa ikhlas dan tidak mengeluh sedikit pun. Hingga pada waktunya, sang Ayah harus menghadap kepada sang Pencipta.

Ayah Abdul meninggal dunia tanpa meninggalkan warisan sedikit pun. Meski begitu, ia tetap mau memandikan, menshalatkan, serta menguburkan jenazah.

Lanjutan cerita anak berbakti kepada ayah ini terjadi malam hari saat Abdul sudah pulang dari pemakaman ayahnya.

Abdul bermimpi ada seseorang berpenampilan miskin mendatanginya lalu berkata kepadanya, “Datanglah ke tempat ini, lalu galilah tanah di sana. Niscaya akan engkau temukan uang 100 dinar. Ambil saja!”

“Apakah ada keberkahan dari uang tersebut?” tanya Abdul.

“Tidak!” jawab si pria aneh tersebut sebelum beranjak pergi lalu menghilang dari pandangan.

Keesokan harinya Abdul menceritakan mimpi tersebut kepada istrinya. Sang istri menyarankan Abdul untuk mendatangi tempat tersebut dan menggunakan uangnya untuk belanja keperluan sehari-hari.

Namun, Abdul tetap menolak dan tidak mau pergi ke tempat tersebut. Semakin keras Abdul menolak, ia terus mendapatkan mimpi tersebut bahkan sampai empat kali.

2. Akhir Cerita

Sampai pada akhirnya setelah mimpi keempat, ia memutuskan untuk mendatangi tempat tersebut. Benar saja, ada tumpukan uang di dalam tanah dan ia mengambil satu dinar.

Dalam perjalanan pulang, Abdullah bertemu dengan seorang nelayan penjual ikan. Ia membeli dua ikan seharga satu dinar darinya.

Begitu sampai ke rumah, sang istri menerima ikan-ikan yang Abdul beli. Saat sang istri membersihkan perutnya, betapa terkejutnya ia karena ada dua intan di dalam perut masing-masing.

Intan itu pasti berharga sangat mahal hingga akhirnya ada dua orang yang membelinya yaitu seorang raja dan prajurit. Dari hasil penjualan tersebut, Abdul menjadi orang yang kaya.

Itulah sedikit kisah anak berbakti kepada orang tua sampai mendapatkan keberkahan. Selain itu, kamu juga bisa mewujudkan rasa bakti kepada ayah dan ibu dengan cara berwakaf untuk orang tua di GoAmal!

Beranda
Bantuan
Infak Cepat
Cari
Akun